home Wisata Taman Buaya Cibarusah

Taman Buaya Cibarusah

Sabtu, 14 September 2013 kemarin saya dan keluarga berkesempatan berkunjung kerumah saudara didaerah Cibarusah, Bekasi. Menurut saudara saya tersebut, rumahnya dekat dehgan lokasi wisata Taman Buaya. karena kebetulan anak saya yang baru 4 tahun sahgat senang dengan reptilia, maka sepanjang perjalanan saya janijikan akan ke Taman Buaya, dan anak saya antusias sekali. Setelah bersilaturahmi ketempat saudara, siang itu saya langsuhg menuju tempat yang dimaksud. Lokasinya mudah diakses, berada dijalan raya Cibarusah-Cikarang, kira-kira 5 km dari kawasan EJIP. Begitu tiba dilokasi, kesan pertama adalah, sepi bangett!! Pada saat yang bersamaan ada 1 keluarga bermobil sekira 6 orang dan sepasang muda-mudi bermotor mengunjungi tempat yang sama. Kemudian saya langsung menuju loket untuk membeli tiket masuk. Cukup kaget juga ketika membaca harga tiket yang tertera, Rp.20.000,- untuk dewasa dan separuhnya untuk anak-anak. ternyata lebih mahal dari Ragunan, dalam pikir saya. Setelah tiket ditangan, kami langsung masuk kedalam taman. Lagi-lagi kenyataan tak sesuai harapan, alih-alih menyaksikan atraksi buaya yang menarik kami hanya menyaksikan buaya-buaya dengan kondisi yang mengenaskan. Ada 5-6 kolam besar brukuran 100 m2, dimana 4 diantaranya berisi 15-20 ekor buaya dewasa. Kondisi buaya-buaya tersebit sangat memprihatinkan,banyak buaya yang cacat pada bagian mata dan kepalanya, bahkan ada yang jari jemarinya sudah tidak lengkap lagi. Buaya-buaya itu juga cenderung agresif, mungkin karena kelaparan, karena setiap kami berjalan buaya-buaya itu akan berusaha mendekat. Untungnya pagar pemisah mampu menjaga jarak kaki dehgan buaya lapar tersebut. Ditempat yang sama ada 2 kolam kecil berisi 5-10 buaya dehgan kondisi yang lebih baik. Tak lupa ada juga lokasi panggung atraksi buaya, sayangnya pertunjukan hanya ada pada hari minggu. Tidak sampai 30 menit kami ditempat itu, karena tidak ada yang bisa kami dapatkan, bahkan petugas penjaga buaya pun tak ada layaknya dikebun binatang. Kios-kios penjual makanan dan minuman juga tidak buka karena sepinya pengunjung, padahal saat itu adalah weekend, dimana tempat wisata biasanya ramai pengunjung. Dalam perjalanan pulang kami membahas tempat tersebut. Kesimpulannya ada sebuah lingkaran setan yang saling terkait, pertama, pengelola tidak memiliki dana untuk biaya pemeliharaan dan promosi sehingga tempat menjadi terbengkalai, seakan hidup segan mati tak mau. Kedua, karena tempat yang tidak trawat pengunjung menjadi tidak nyaman, ditambah harga tiket yang terlalu mahal untuk sebuah ‘kandang buaya besar’. Hal ini tentu menjadi antipromosi, karena pasti pengunjung yang sudah permah akan memberikan penilaian not recommended. Ketiga, pemerintah daerah tidak memberikan perhatian dan bantuan, walaupun Taman Buaya ditampilkan diwebsite pemerintah kota bekasi. Menurut saya akan lebih baik, jika Taman Buaya dijadikan tempat penangkaran untuk memenuhi kebutuhan industri kulit, khususnya kulit buaya. Dengan metode bisnis maka akan ada perputaran uang untuk membiayai pemeliharaan dan penangkaran buaya, sehingga Taman Buaya tidak lagi kumuh jika tidak ingin disebut sebagai ‘Kuburan Buaya’. Awalnya pemerintah harus memberikan bantuan, karena sayang jika tempat yang seharusnya bisa menjadi sarana pendidikan ini terbengkalai dan buaya-buaya menjadi tidak terawat. Atau mungkin dilakukan kerjasama dengan kebun binatang Ragunan untuk memyelamatkan buaya-buaya itu. Salam

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hari_prasetiawan/taman-buaya-cibarusah_5528220ff17e61231e8b45b9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *